Survei LP3ES Sebut Mayoritas Masyarakat Takut Berpendapat, Akademisi: Ini Berdampak Kurang Baik Bagi Demokratisasi

Hasil survei Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyebut bahwa 52,1 persen masyarakat menyatakan mengaku makin takut berpendapat, berpekspresi, berkumpul dan berserikat.

Akademisi Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad, mengatakan, temuan survei LP3ES merepresentasikan kondisi masyarakat secara faktual.

Kondisi meningkatnya ketakutan masyarakat, menurut Suparji Ahmad, akan berdampak kurang baik bagi demokratisasi di Indonesia.

“Survei tersebut merepresentasikan kondisi masyarakat secara faktual, ini kurang kondusif untuk iklim demokrasi yang autentik,” kata Suparji Ahmad, Kamis (6/5/2021).

Dijelaskan Suparji, jika mengacu data temuan survei LP3ES jelas didapatkan faktor yang menjadi penyebab takutnya masyarakat mengemukakan pendapat.

Menurutnya, pemerintah harus segera mencari solusinya.

“Faktor yang menyebabkan ketakutan berpendapat dicari solusinya, mengingat itu bagian dari kondisi yang tidak dikehendaki dalam alam demokrasi,” tandas Suparji.

Suparji kemudian menyarankan beberapa langkah untuk memperbaiki kondisi itu. Beberapa tindakan yang harus dilakukan pemerintah adalah perlu dikurangi upaya represif terhadapa pendapat kritis dari elemen sipil.

Selain itu, Suparji meminta pemerintah lebih akomodatif menyikapi berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat.

“Perlu segera diatasi sehingga masyarakat dapat kontributif dan produktif dalam berpendapat dan dicegah adanya budaya saling lapor,” pungkas Suparji.

Sebagaimana diketahui, LP3ES telah merilis hasil survei yang menyatakan masyarakat semakin takut untuk berpendapat di muka publik. Hasil survei LP3ES menunjukkan 52,1 persen responden setuju saat ini ancaman kebebasan sipil meningkat, sehingga masyarakat makin ketakutan dalam berpendapat, berekspresi dan berkumpul serta berserikat.

“Kondisi ini juga diperkuat dengan kinerja sektor pemerintahan, di mana kebebasan berorganisasi atau berpendapat mendapat penilaian publik hanya sebesar 59,2 persen,” kata Peneliti LP3ES, Erwan Halil, dalam keterangan tertulis, Kamis (6/5/2021).

Di sisi lain, Erwan menuturkan, mayoritas masyarakat saat ini masih tetap intens mengikuti perkembangan informasi terkait sosial politik melalui media massa dan media sosial.

Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19 masyarakat tidak apatis terhadap isu-isu aktual. Bahkan, Erwan mengungkapkan, masyarakat memberi perhatian pada sejumlah isu, antara lain konflik Partai Demokrat, korupsi bansos, bom bunuh diri Makassar, hingga kandidat calon presiden 2024.

“Melalui media, masyarakat kita memberikan perhatian pada isu-isu yang dianggap penting,” kata Erwan.

Survei LP3ES diikuti oleh 1.200 responden usia dewasa yang tersebar di 34 kota besar di Indonesia. Pelaksanaan survei dilakukan pada 8 sampai 15 April 2021 dengan metode multistage random sampling.

Survei ini memiliki margin of error lebih kurang 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here