Sindiran Keras Tokoh Nasional Rizal Ramli ke Aktivis 98: Baru Dikasi Remeh-remeh Lupa Sama Rakyat!

Tokoh nasional Rizal Ramli mengungkapkan bahwa 23 tahun reformasi, Indonesia makin jauh dari cita-cita yang diperjuangkan. Bahkan menurutnya, demokrasi kriminal makin menjadi-jadi di tanah air.

Ia juga mengaku kecewa dengan para aktivis 98 yang telah mendapatkan jabatan, namun lupa pada idealisme serta tujuan lahirnya reformasi.

“Jujur saya kecewan dengan teman-teman aktivis 98 karena begitu dikasi remah-remah kekuasaan seperti menjadi komisaris atau anggota DPR di mereka tidak lagi memperjuangkan dan lupa dengan kepentingan rakyat. Namun saya masih gembira karena masih ada juga beberapa aktivis 98 yang masih dalam semangat dan cita-cita reformasi,” tegas tokoh pergerakan ini, Senin (24/5).

Rizal Rami, yang pernah ditahan di era Soeharto ini menyebut, setidaknya ada tiga kesalahan besar yang dilakukan oleh para aktivis 98.

Adapun yang pertama, para aktivis sudah tidak lagi bersifat intelektual. Sedangkan yang kedua, aktivis 98 tersebut melakukan pembenaran terhadap apa yang dilakukannya dengan argumentasi yang ngawur.

“Nah, yang ketiga ini adalah… masuknya mereka ke dalam kekuasaan malah tidak memberi nilai tambah namun malah membebani bangsa dan negara ini. Jadi..keberadaan mereka (aktivis 98) tersebut di dalam kekuasaan tidak menciptakan nilai-nilai positif atau nilai tambah. Malah mereka hanya menjadi beban buat bangsa dan negara ini,” tegasnya.

Rizal mengungkapkan, bahwa masuknya para aktivis 98 yang masuk ke jajaran kekuasaan atau yang terpilih menjadi anggota DPR RI agar tetap mempertahankan idealisme dan tradisi intelektual. “Misalnya jika berhadapan dengan hal yang tidak benar maka mereka tidak boleh menjilat atau sekurang-kurangnya diam saja,” tegasnya lagi.

Melihat kondisi saat ini, mantan Menko Ekuin era Gusdur ini mengaku, bahwa dirinya dan teman-teman berupaya keras untuk melawan arus yang menjerumuskan bangsa dan negara ini dalam lubang otoritarianisme.

Hal ini menurutnya sangat penting dilakukan, mengingat,  bangsa ini makin masuk ke dalam kubangan sistem otoritarianisme.

Apa yang dikatakan Rizal tentunya bukan tanpa sebab. Tak bisa dielakkan lagi, bahwa seorang pejabat negara jika hendak menjabat maka dia harus membayar mahal.

Ia mengulas kembali apa yang pernah terjadi pada era Presiden BJ Habibie dan Gus Dur, dimana keduanya  masih memiliki komitmen terhadap cita-cita reformasi. Namun setelah Gus Dur semuanya berubah drastis.

Padahal, sebelum masa reformasi, kata Rizal Ramli, anggota DPR itu jauh lebih hidup dan kritis daripada DPR saat ini. “Dulu saya menjadi penasihat ekonomi Fraksi Angkatan Bersenjata di DPR tahun 1992 hingga 1998. Anggota DPR itu jauh lebih hidup, krisis dan faktual. Semua anggota DPR waktu itu tahu bahwa mereka tidak boleh mengeritik Soeharto dan anak-anaknya. Namun selebihnya bisa dikritik, termasuk kebijakan para menteri,” pungkasnya.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here