PDI-P, PAN dan Muhammadiyah ‘Hangat’ Bahas Historis, Kode?

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebutkan bahwa kerjasama antara partainya dengan PAN, dan Pemuda Muhammadiyah memiliki legitimasi historis dan ideologis. Hal ini dikarenakan tiga organisasi ini menurutnya memegang obor semangat keindonesiaan sejak awal.

“Jadi kalau cikal bakal PAN adalah Muhammadiyah, maka kerja sama kami dengan PAN dan Pemuda Muhammadiyah, punya legitimasi historis dan ideologis. Karena kita bersama yang memegang obor semangat keindonesiaan itu sejak awal,” tegasnya, ketika menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemuda Muhammadiyah bertema “Konfigurasi Politik Pemuda Muhammadiyah Menyambut Pesta Demokrasi 2024”.

Diketahui, dalam acara tersebut dihadiri Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno dan pengurus Pemuda Muhammadiyah seluruh Indonesia, di Jakarta, Minggu (2/5/2021).

Selain itu, Hasto juga menjelaskan, tidak ada pemilik tunggal republik karena Indonesia adalah negara gotong royong yang menjadikan rakyat sebagai satu-satunya pemegang legitimasi kekuasaan.

Adapun menurutnya, sejak awal berdiri, gotong royong sudah nyata. Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), dan PNI sebagai representasi kelompok Nasionalis selalu bersama mempelopori Indonesia Merdeka. “Lalu terjadi juga reproduksi ‘American Politics’ di Indonesia dengan credo ‘one man, one vote, dan one value’ yang menggantikan demokrasi musyawarah,” sambung Hasto.

Dalam diskusi tersebut, Hasto menekankan, pertama, bagaimana Pemuda Muhammadiyah memiliki kekuatan ideologis dan moralitas yang baik yaitu Pancasila dan semangat Islam is a progress.

Kedua menurut dia, bagaimana Pemuda Muhammadiyah bersama pemuda Indonesia lainnya menguasai sains dan teknologi. Sebab tak ada bangsa yang besar tanpa riset serta inovasi.

“Ketiga, kader Pemuda Muhammadiyah harus memiliki kemampuan organisasi yang, beserta kemampuan leadership yang handal dan juga mampu berkomunikasi yang baik. Keempat, cara pandang, harus berjuang mendorong kemajuan Indonesia di dunia, jadi ‘outward looking’,” tutupnya.

Sementara itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan, selama ini banyak yang menduga partai politik sekedar memikirkan pemenangan pemilu setiap lima tahun. Namun menurut dia, yang sering tidak diketahui masyarakat, parpol sebenarnya memikirkan bagaimana menciptakan negarawan.

“Sering disebut politikus hanya pikirkan elektoral tiap 5 tahun. Namun negarawan memikirkan bagaimana generasi berikutnya, Mas Hasto dengan kami di PAN, mungkin bisa disebut hybrid,” jelas Eddy.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here