Pembatalan Keberangkatan Haji Adalah Bencana Nasional!

Bantahan pemerintah mengenai batalnya keberangkatan haji 2021 tidak masuk akal. Jika alasan kuat adalah karena pandemi covid-19. Bagaimana tidak, sebelumnya saya telah menjelaskan, bahwa banyak negara-negara yang bisa masuk Arab Saudi tapi tingkat kematian akibat covid-19 justru jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia.

Menariknya, apa yang disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sangat sederhana, yakni penanganan pandemi di negara lain juga masih dalam tahap penyelesaian.

Ini juga hal yang sama dilakukan oleh Ketua Komisi VIII mengenai soal batalnya keberangkatan haji 2021. Ia membantah jika ada hal lain, yakni soal utang Indonesia ke Arab Saudi, seperti pemondokan. katering dan sebagainya.

Legislatif dan Eksekutif bagaikan paduan suara, kompak, memberikan penjelaskan sangat sesederhana itu, dan tak membuahkan hasil yang memuaskan bagi masyarakat.

Benarkah Gagalnya Keberangkatan Haji Karena Utang RI ke Arab Saudi?

Saya rasa bukan hanya saya saja yang membaca berita soal utang pemerintah yang makin hari makin menggunung. Karena semua informasi sudah terbuka lebar mengenai utang yang terus membesar dan berdampak buruk pada masyarakat Indonesia.

Bayangkan saja, mencari solusi untuk membayar utang saja, pemerintah harus menggunakan utang baru. Bahkan, dalam mengatasi krisis multidimensi ini pemerintah bekerja keras sampai pada pemungutan pajak yang kecil-kecil, penggunaan dana wakaf.

Jadi, jika mengutip apa yang disampaikan oleh KH Ma’ruf Amin bahwa dirinyalah yang menandatangai dan haji untuk investasi ataupun infrastruktur, tampaknya semakin terbuka lebar, bahwa kemungkinan ada indikasi penggunaan dana untuk kepentingan infrastruktur.

Namun jika tidak, pemerintah harus menyampaikan transparansi mengenai anggaran haji. Baik itu diaudit, diumumkan.

Dana Rawan Dialih-fungsikan

Pernyataan Ma’ruf Amin saja sudah menjelaskan penggunaan dana haji untuk infrastruktur, selain itu Menkeu Sri Mulyani juga dengan mudahnya menyebut bahwa dana wakaf akan digunakan untuk infrastruktur. Jika benar dana haji digunakan untuk infrastruktur, itu artinya pemerintah belum menjadikan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia saat pandemi sebagai prioritas, meski kita tau bahwa apa yang disampaikan oleh Ma’ruf Amin adalah pada tahun 2017 lalu.

Penantian Panjang Masyarakat Miskin Menunggu Jadwal Haji

Pertanyaannya, apakah pemerintah berfikir tentang penantian panjang calon jemaah haji hingga belasan tahun, kemudian putus harapan hanya dengan pernyataan sederhana tersebut?

Tentunya, melihat tingkat angka kemiskinan di Indonesia, mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), dimana persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.

Selain itu, jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019.

Dengan data satu tahun terakhir saja menunjukkan kenaikan angka kemiskinan yang signifikan. Ini bisa diartikan, bahwa untuk menempuh haji dengan harga berkisar Rp35 juta hingga Rp38 juta, mengingat masing-masing Embarkasi daerah memiliki harga yang berbeda, masyarakat harus menjual tanah, mencicilnya pembayaran di bank, di agen-agen keberangkatan haji di Indonesia.

Bagaimana nasib calon haji yang telah berusia 80 tahun, 70 tahun di daerah-daerah yang merasakan penantian panjang, apakah kondisi psikologis mereka tak terganggu, dengan berhasil selamat dari pandemi covid-19 saja di usia rentan seperti kelompok tersebut sudah bersyukur, ini mereka dikagetkan dengan gagalnya keberangkatan haji yang sudah di depan mata.

Ini akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah, harus ada tim yang turun kedaerah-daeah untuk memberikan peningkatan semangat psikologis agar para lansia (lanjut usia-red) tidak terpukul atas keputusan tersebut.

Mengapa hal ini harus dilakukan oleh pemerintah, kondisi ini bisa diartikan sebagai bencana nasional dan masyarakat terutama calon haji harus mendapatkan recovery agar mereka memahami kondisi ini. Karena kerugian finansial, waktu, dan berujung kekecewaan yang sangat mendalam, bisa berimbas pada psikologis, ini nyaris sama dengan pada bencana alam yang rekor jumlah kerugian yang dialami mungkin lebih banyak dalam kasus pembatalan haji ini.

Selain itu, peristiwa ini juga menggambarkan bahwa Indonesia tidak dipandang oleh pemerintah Arab Saudi, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas umat Islam, dan terbesar di dunia.

Sehingga tak ada alasan kuat apapun yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, selain sebagai visitor terbanyak, mayoritas terbanyak dunia.

Indonesia Tak Dipandang Oleh Saudi Arabia

Apa indikator RI tak dipandang oleh Arab Saudi? Lihat saja angka investasi yang ditanam Raja Salman ke Indonesia dan kepada China.

Indonesia hanya kebagian sebesar Rp89 triliun, sementara Saudi menanamkan investasinya kepada China sebesar Rp870 triliun. Hal ini diketahui dimana pada April 2017 lalu saat Raja Salman mengungjungi Indonesia.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, disaat masyarakat Indonesia sedang mengalami musibah besar karena pembatalan tersebut, pemerintah Arab Saudi justru berencana menambah kuota haji untuk Malaysia sebesar 100.000 jamaah haji, jika pandemi covid-19 berakhir.

Jadi.. pemerintah harus jujur, terbuka mengenai dana haji 2021, uang yang ditanam dan dicicil bertahun-tahun digunakan untuk apa, ini memang harus diaudit dengan profesional agar masyarakat tak syok atau kaget.

Jika tidak, maka kepercayaan publik terhadap tata kelola keuangan pemerintah makin menurun, dan kepercayaan rakyat kepada presiden Jokowi makin berkurang.

Menariknya, netizen yang kerap menuding Ustadz Adi Hidayat mengenai transparansi dana bantuan ke Palestina juga tak menyindir masalah ini. Jika akhirnya Ustadz Adi Hidayat berani membuka daftar transfer bantuan kepada publik, karena ini termasuk hubungan dua negara, hal yang sama tentunya harus dilakukan oleh pemerintah mengingat ada dua negara di sini, yakni Indonesia-Arab Saudi. (Muda Saleh)

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here