Indonesia Bisa Bernasib Sama dengan Kerajaan Mughal?

Kerajaan Mughal di India pernah mencapai masa keemasan hingga satu setengah abad. Namun, kerajaan Islam itu meredup dan hingga akhirnya hancur setelah pemerintahan Aurangzeb atau tepatnya pada 1858 M.

Dalam buku “Sejarah Peradaban Islam” yang ditulis Prof. Badri Yatim menyebut bahwa penyebab dari kehancuran Kerajaan Mughal selain adanya gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara, dan Islam di bagian timur, ternyata juga dikarenakan adanya kebijakan penguasa kala itu yang mengizinkan Inggris menanamkan modal dan mempersilahkan kekuatan bersenjatanya hadir, sehingga semakin menguasai wilayah pantai.

Konflik berkepanjangan yang terjadi antara keluarga kerajaan untuk memperebutkan kekuasaan di pusat pemerintahan, mengakibatkan pengawasan terhadap daerah melemah. Pemerintahan daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintahan pusat.

Nah, disaat kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah makin kuat mengangkat senjata melawan Mughal.

Pada Akhirnya Sultan Mughal Syah Alam (1761-1806) membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, Bengal, dan Orisa kepada Inggris.

Syah Alam meninggal tahun 1806 yang dilanjutkan oleh Akbar II (1806-1837). Ia memberikan konsesi kepada EIC (East India Company) untuk mengembankan usahanya di India dengan syarat harus menjamin kehidupan raja dan keluarganya.

Akan tetapi Bahadur Syah (1837-1858) tidak menerima isi perjanjian EIC dengan ayahnya itu, sehingga menimbulkan konflik. Pada saat yang sama EIC mengalami kerugian dan sekaligus harus menjamin kehidupan raja dan istana, akhirnya EIC mengadakan pungutan yang begitu mencekik dan kasar.

Karena itu rakyat, baik yang beragama Islam maupun Hindu bangkit dan menuntut Bahadur Syah sebagai lambang perlawanan untuk mengembalikan kejayaan Mughal. Dengan demikian terjadilah perlawanan terhadap Inggris pada bulan Mei 1857 M.

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan dukungan penguasa lokal hindu dan muslim. Inggris kemudian mengusir para pemberontak dari Delhi, banyak rumah ibadah dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istananya (1858 M).

Dengan demikian berakhirlah sejarah Dinasti Mughal di India tinggallah di sana Umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

Bila disimpulkan dari cerita di atas, maka dapat diketahui bahwa faktornya penyebabnya runtuhnya Kerajaan Mughal adalah:

1. Stagnasi pembinaan kekuatan militer. Akibatnya operasi militer Inggris tak terpantau. Kekuatan militer di laut dan darat Kerajaan Mugal menurun.

2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik dan menyebabkan pemborosan keuangan negara.

3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan, sehingga konflik agama sangat sukar diatasi.

4. Pewaris tahta kerajaan pada paruh akhir adalah figur-figur yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

Indonesia Bernasib Seperti Kerajaan Mughal?

Indonesia pada masa kerajaan atau masih nusantara ternyata pernah ada dua Kerajaan yang cukup disegani oleh dunia. Keduanya adalah Majapahit dan Sriwijaya.

Majapahit adalah kerajaan paling disegani di Asia dan juga Eropa. Kerajaan ini memiliki waktu berkuasa paling lama. Kerajaan Majapahit pernah mengalami masa kejayaan saat diperintah oleh Hayam Wuruk dan dibantu oleh Gajah Mada.

Wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas yaitu hampir seluruh wilayah Asia Tenggara dan juga Asia Timur. Bukan hanya ditakuti saja, ternyata kerajaan Majapahit sudah memiliki pemikiran yang sangat cerdas yaitu mereka telah menerapkan system pajak untuk kelangsungan perang, biaya pendidikan, dan juga untuk biaya lainnya sehingga kerajaan ini sangat ditakuti oleh dunia.

Selanjutnya adalah Sriwijaya. Kerajaan ini juga memiliki kekuasaan yang sangat luas yaitu Kalimantan, Jawa, Sumatera, Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Menurut catatan sejarah kerajaan ini telah berdiri sekitar 387 tahun dan pada abad ke-9 melakukan banyak kolonisasi di kerajaan-kerajaan besar Asia Tenggara yaitu kerajaan-kerajaan besar yang terdapat di Jawa, Sumatera, Thailand, Semenanjung Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Filipina.

Ketika Indonesia sudah menjadi negara republik, Presiden pertamanya, yakni, Soekarno juga pernah membawa kejayaan. Misalnya, mulai dari perannya saat membacakan teks Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, perannya yang amat penting saat melahirkan Pancasila hingga peran yang amat menentukan selama menjadi kepala negara selama sekitar 22 tahun.

Dalam konteks menjaga kedaulatan NKRI, Soekarno adalah pemimpin yang paling konsisten. Misalnya, saat Indonesia ingin merebut Irian Barat yang kini namanya telah menjadi Provinsi Papua dan Papua Barat sekitar tahun 1962.

Saat itu Soekarno menggunakan strategi dengan cara memperkuat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI menjadi salah satu angkatan terbesar dan terkuat di kawasan Asia Tenggara. ABRI mendapatkan banyak sekali senjata dari Uni Sovyet (red. Rusia) mulai dari pistol, senapan, pesawat tempur hingga kapal perang.

Tentunya, hal ini membuat Belanda dan Amerika Serikat ketakutan untuk melawan Indonesia. Alhasil, Papua Barat kembali juga ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kemudian, jasa Bung Karno dalam penyelenggaraan Asia Games pada tahun 1962 yang membuat Indonesia mulai merasakan kemajuan teknologi komunikasi dan informatika dengan lahirnya Televisi Republik Indonesia (TVRI). Kini di Tanah Air terdapat belasan stasiun televisi terutama milik swasta.

Sementara itu, Bung Karno di bidang politik telah mewujudkan Indonesia sebagai menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955. Puluhan negara mengirimkan wakil-wakil mereka datang ke Bandung.

Hingga sekarang, KAA masih terus diingat bahkan diperingati dan tentu saja sama sekali tak bisa dipisahkan dari peran jasa luar biasa Bung Karno yang sangat mengharumkan nama dan kehormatan RI.

Soekarno juga dikenal sebagai orator atau tukang pidato di berbagai forum internasional dan setiap kali dia “mengacung-acungkan tangannya” maka hampir bisa dipastikan seluruh rakyat Indonesia mendapat materi yang amat menarik dan menggebu-gebu baik saat dia berpidato di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sang Proklamator ini mempunyai begitu banyak teman di luar negeri yang umumnya merupakan politisi atau negarawan “kelas kakap” seperti Fidel Castro, hingga Mao Tse Tung. Karena itulah, nama Indonesia semakin harum di seantero dunia.

Namun biar bagaimanapun juga, Soekarno hanyalah seorang manusia biasa yang tak akan pernah luput dari kesalahan, kekhilafan atau apapun istilahnya. Berbagai pemberontakan terjadi di dalam negeri, misalnya, pemberontakan PRRI-Permesta, Madiun, Kartosuwiryo hingga G-30-S/PKI.

Akhirnya Bangsa Indonesia mau tidak mau harus rela melepaskan Bung Karno dan akhirnya kursi RI-1 dipegang oleh Soeharto.

Nah, Soeharto juga bukan “wajah baru” bagi bangsa ini terutama dia sudah dikenal sejak upaya merebut Irian Jaya. Kemudian saat terjadinya pemberontakan PKI tahun 1965, Soeharto sedang menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis alias Kostrad yang merupakan salah satu kesatuan elit di ABRI.

Bersama dengan Jenderal Abdul Haris Nasution, duet ini membasmi dan menggulung PKI.

Salah satu tugas utama Soeharto adalah memperbaiki ekonomi di Tanah Air dan bersama-sama dengan sejumlah pakar ekonomi seperti Profesor Soemitro Djjohadikusomo, Ali Wardhana, Saleh Afiff dan tokoh-tokoh utama ekonomi dalam negeri terus berusaha memperbaiki ekonomi dalam negeri.

Inflasi yang begitu tinggi pada masa pemerintahan sebelumnya secara bertahap terus-menerus dikurangi sehingga rakyat bisa menghadapi kehidupan sehari-harinya dengan perasaan yang cukup tenang.

Karena itu, sama sekali tak mengherankan bila seorang politisi PDIP Taufiq Kiemas pernah mengungkapkan bahwa masih banyak warga Indonesia yang merindukan kepemimpinan jenderal besar ini padahal Taufiq Kiemas pernah merasa “dikucilkan” selama masa Orde Baru.

Indonesia pernah mendapat penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, yakni FAO karena dianggap sukses mewujudkan swasembada pangan terutama beras. Selain itu, berbagai penghargaan dan pujian terus mengalir ke dalam negeri.

Di bidang politik luar negeri, Soeharto mempunyai hubungan sangat erat dengan Perdana Menteri Doktor Mahathir Mohammad dan juga Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew sehingga praktis tak ada ganjalan atau hambatan dengan kedua negara tetangga itu.

Setelah berkuasa 32 tahun, Soeharto-pun terpaksa harus lengser pada 21 Mei tahun 1998, karena rakyat sudah tak menyukainya lagi. Penyebabnya, ekonomi ambruk, pemerintahannya banyak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) termasuk lingkungan terdekatnya.

Reformasi Era Jokowi

Di era reformasi sudah ada 5 pemimpin yang telah memerintah. Tapi, kita akan melompat pada era kini, tepatnya pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bila dilihat dari awal Jokowi memimpin Indonesia, tepatnya 2014, prestasi yang ditorehkannya itu adalah berhasil mengakumulasi dari kegagalan Soekarno dan Soeharto saat memimpin Indonesia.

Faktanya, bila kita bicara dalam hal gerakan separatis di Papua, Jokowi tampaknya menggunakan cara-cara Soekarno dalam menumpas kelompok yang dianggap tak sehaluan dengan pemerintah. Dan dapat dipastikan bibit-bibit perlawanan akan semakin kuat.

Sejatinya kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan di Bumi Cendrawasih. Terlebih lagi pemerintah terkesan reaksioner melabeli kelompok kriminal bersenjata dengan sebutan teroris. Justru hal ini semakin membesarkan kelompok tersebut.

Sepatutnya Jokowi belajar pengalaman dari Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menggunakan cara persuasif dengan mengumpulkan para tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk berdiskusi guna memecahkan masalah. Alhasil, Irian Jaya yang disepakati berubah menjadi nama Papua, penggunaan lambang Bintang Kejora sebagai simbol culture, dan sebagainya telah membuat Bumi Cendrawasih menjadi aman dan damai.

Selanjutnya dalam persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang pernah membuat Soeharto terjungkal dari kekuasaan ternyata kembali terulang di era pemerintahan Jokowi. Faktanya, KPK yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberantas korupsi justru seolah dibuat lemah karena adanya UU KPK yang baru. Salah satu dari aturan baru itu diatur mengenai kewenangan Dewan Pengawas KPK yang mengizinkan atau tidak memberikan izin penyadapan, penggeledahan, dan/atau penyitaan. Konsekuensinya, lembaga antirasuah itu pernah beberapa kali kebobolan dalam menangani perkara. Yang teranyar adalah hilangnya barang bukti suap saat menggeledah rumah milik Haji Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam yang diduga melakukan suap pajak.

Dalam hal kedaulatan negara, Jokowi sepatutnya belajar dari sejarah runtuhnya Kerajaan Mughal. Salah satunya lengah dengan kekuatan militer Inggris.

Namun, di era pemerintahan Jokowi, justru China kerap melakukan pengintaian dan provokasi terhadap Indonesia, dan pemerintah seolah tetap bergeming.

Misalnya, pada September 2020 ada kejadian Kapal penjaga pantai (coast guard) China masuk ke wilayah Natuna RI. Kapal tersebut bahkan sempat menolak untuk pergi dari Laut Natuna Utara.

Tidak berhenti sampai di situ. Di awal tahun 2021 diketemukan juga drone mata-mata berbentuk kapal selam mini asal RRC yang ditemukan sejumlah nelayan di perairan Selayar. Kalau KSAL Laksamana TNI Yudo Margono mengistilahkan benda itu bukan drone, tapi seaglider.

Kemudian, kapal perang militer China kembali kepergok sedang berlayar di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) NKRI di perairan Laut Natuna Utara pada 4 Februari 2021. Aksi kapal perang militer China masuk ke wilayah laut Indonesia terdeteksi oleh KRI Bontang 907. Kapal perang TNI yang berada di bawah Komando Armada (Koarmada) 1 TNI Angkatan Laut.

Bahkan, 19 hari sebelum tragedi tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402 di Peraian Bali bagian utara pada 21 April 2021, TNI AL berhasil mendeteksi adanya dua kapal riset China melintasi perairan Selat Sunda, Banten.

Dalam video “Monitoring Dua Kapal Riset China Melintas Selat Sunda” yang diunggah melalui akun YouTube Komando Armada I (Koarmada 1) pada Senin (12/4/2021) lalu, terlihat dua kapal tersebut datang bergantian.

Pada 2 April 2021, kapal pertama, kapal penelitian Da Yang Hao, tertangkap radar sekitar pukul 11.23 WIB dari Samudera Hindia menuju Laut China Selatan.

Keesokan harinya, pada 3 April 2021, kapal kedua yang merupakan kapal pelacak satelit/rudal Yuanwang-6, tertangkap radar pada pukul 19.25 WIB di Selat Sunda. Kapal ini dikatakan melintas dalam kondisi langit gelap gulita.

Lalu, ketika pemerintah memberlakukan lockdown kedatangan dan keberangkatan pesawat dari luar negeri guna menekan lajunya pandemi Covid-19, justru 153 WNA dari China masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu (23/1/2021).

Kalau lihat dari sektor bisnis juga demikian. Misalnya dalam proyek kereta cepat Bandung-Jakarta. Ada pembengkakan pada biaya pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Saat ini, pembengkakan biaya pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sedang dihitung oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Kita kemudia bicara soal tenaga kerja asing di Indonesia. Dari data Kemenaker, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia pada 2020 mencapai 98.902 orang. Dari data tersebut TKA asal China menduduki peringkat pertama, yaitu 35.781 orang atau setara 36,17%.

Para TKA dari negeri tirai bambu itu telah berhasil mengirimkan uang ke negaranya hingga mencapai Rp 3 triliun pada 2019. Sementara, pada kwartal I 2020, tercatat para TKA China itu telah mengirimkan uang sebanyak Rp 725 miliar ke negara asal mereka.

Terlebih, saat ini Indonesia sedang dihadapkan dengan kondisi perekonomian yang sulit akibat pandemi Covid-19. Jutaan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka karena terkena PHK.

Sementara para TKA China yang mendapatkan pekerjaan di nusantara mampu mengirimkan uang ke negara mereka hingga miliaran rupiah.

Kalau kita terus bicara soal dominasi China di Indonesia seolah tak ada habisnya. Tapi, hal ini tak bisa diabaikan! Karena sejarah soal runtuhnya Kerajaan Mughal salah satunya adalah akibat terlalu lemah terhadap Inggris.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here