ICW Angkat Bicara Soal Tudingan Buzzer Terkait Donor Internasional

Sebenarnya malas bagi saya menanggapi tudingan buzzer soal kaitan KPK dan ICW. Ada buzzer yang di jaman Jokowi berkibar, tuh, sampai menyebut namanya saja saya itu malas. Tapi begini, saya jelaskan lagi ya. Tudingannya itu mengaitkan antara-kerja-kerja advokasi ICW soal tes wawasan keangsaan (TWK) pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan dana dari donor internasional.

Bang buzzer, sini saya kasih tahu sedikit ya, supaya agak pintar. Program pembangunan dalam bentuk hibah dan atau utang itu ada di dalam skema kerjasama G to G (semoga paham ya apa itu G to G). Nah, proses administrasinya itu njlimet. Beda dengan buzzer yang gak perlu ada urusan administrasi, langsung transfer. Ada tahapannya ini Bang buzzer.

Pertama, pemerintah Indonesia harus menyetujui dulu rencana programnya. Siapa saja Kementerian yang terlibat? Ya tergantung jenis programnya. Ada Bappenas, ada Mensesneg, ada KemenkumHAM, ada Kemendagri, dll. Sampai sini paham ya.

Kedua, masing-masing donor presentasi ke Kementerian teknis untuk kemudian ketika sudah disetujui baru akan ada akad kerjasama. Setelah itu baru ke masing-masing NGO atau bahkan Kementerian teknis yang juga sering mendapatkan hibah. Jumlahnya, kalau dihitung dan dibandingkan, jauh lebih besar daripada hibah yang diterima NGO, termasuk ICW. Kalau Bang buzzer mau ngulik sendikit data keuangan di Bappenas, ada tuh informasinya.

Lagian, KPK itu lahir dari tuntutan masyarakat. Dulu, jauh sebelum Bang buzzer nongol. Saya juga tidak tahu dulu Bang buzzer kerjanya apa. Tapi yang pasti ketika pembahasan penyusunan dan pembentukan KPK, saya tidak melihat Bang buzzer. Mungkin saat itu cuma di rumah ya. Eh, sekarang pakai narasi proksi asing, nasioalisme, kebangsaan, untuk menyerang kami. Emangnye siape elo? #betawimodern

Oleh: Koordinator ICW Adnan Topan Husodo

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here