Diam Saja Kah Kita?

Dia, mereka..kian kemari kian sering mempermainkan waktu. Semakin banyak melontarkan kata berbuih, semakin sibuk dengan mengumbar satu kebohongan yang menutupi kebohongan lainnya

Semakin sibuk melakukan pembenaran, pun untuk tindakan-tindakan kedzaliman yang mengabaikan hukum dan kebenaran yang berkeadilan

Hukum hanyalah tajam kebawah, dan tumpul keatas. Pemahaman tentang dosa dan segala sanksinya pada Pengadilan Allah di Padang Mahsyar, hanyalah dianggap sebagai dongeng

Kalaulah sudah seperti itu adanya,

bagaimana dengan kita?

Diam saja?

Membenarkan diam?

Mendiamkan pembenaran?

Kebanyakan dari kita agaknya masih menjalani lelakon untuk keselamatan diri, menikmati rasa mapan, dan kalau perlu lepas tangan – membiarkan semua yang terjadi di negeri ini berjalan apa adanya

Sepertinya selalu ada alasan yang membenarkan “diam” Selalu bisa cari alasan menghindar untuk mengatakan bahwa negeri ini diambang karam Bung!

Yang utama perlu diselamatkan ialah negeri ini

Yang perlu utama diselamatkan ialah hari esok,

masa depan anak-cucu seantero negeri

Apa yang bisa diharapkan untuk suatu masa depan yang baik,

jika dalam kekinian pengelolaan negeri dibangun atas dasar kecurangan, ketidak-adilan, dan yang lebih parah lagi: dilakukannya kedzaliman secara sadar dan kasat mata

Dan jangan bilang bahwa kita peduli, kalau hanya duduk menanti

Malam datang seperti biasanya,

menang di giliran gelap

Kunyalakan obor –

rasa takut tak berdiam dalam terang

Pikir memijar dalam nyala,

memerdekakan jiwa dari belenggu ego –

dari penyelamatan diri sendiri

Di dunia yang benderang hanya oleh bayang

mustahil berharap perubahan,

kalau kau tak merubah dirimu sendiri –

mari ikut sebagai bagian dari upaya perubahan di negeri ini,

demi untuk kebaikan kini dan juga nanti … (Kelana Budi Mulia)

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here