Pernyataan Jampidsus Soal Negara Dapat BMW Pinangki Dinilai Memalukan!

Eks Jaksa Pinangki Sirna Malasari sempat kembali menjadi dorotan publik karena hukuman yang ia dapati dianggap publik sangat ringan. Sebelumnya, sosok yang tersangkut kasus hukum atas kasus suap, pemufakatan jahat dan pencucian uang mendapat hukuman 4 tahun penjara, dari 10 tahun penjara.

Namun, yang juga menarik dari kasus ini adalah dimana negara hanya mendapatkan mobil BMW X-5 milik Pinangki sebagai hasil penyitaan dari kasus yang dialami Pinangki. Dimana beberapa waktu lalu, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Kampidsus) Kejagung Ali Mukartono mengungkapkan hasil penyitaan tersebut kepada publik dengan bangganya.

Ironis, publik justru menilai apa yang ddapat negara justru memalukan. “Saya kira ini pernyataan yang memalukan, karena seolah-olah terkesan Pinangki sudah menyumbangkan sebuah mobil BMW kepada negara dan pikiran seperti ini sesat,”ujar pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, kepada wartawan, kemarin di Jakarta.

Pasalnya menurut Fickar, Pinangki secara nyata dan terbukti telah bersalah melakukan tindak pidana korupsi sesuai putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Jadi, bukan secara sukarela tapi sesuai putusan pengadilan diserahkan kepada negara.

“Ini menjadi pertanyaan besar, mengapa hingga kini Pinangki masih ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung?,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, bahwa atas perbuatan Pinangki justru negara mengalami kerugian yang tidak bernilai karena kehilangan sumber daya manusia jaksa penuntut umum (SDM JPU) yang sudah dididik dan digaji negara untuk melaksanakan tugas.

“Tapi justru menjadi penjahatnya, berapa biaya yang sudah dikeluarkan negara untuk mendidik dan menggaji terdakwa Pinangki selama ini. Tentu tidak pernah cukup kalau hanya dibayar dengan mobil BMW semata,” jelas dia.

Selain itu, Fickar mengatakan negara juga mengalami kerugian immaterial yaitu rasa malu yang besar karena tidak bisa mengendalikan aparaturnya melakukan kejahatan korupsi.

“Itulah yang harusnya menjadi pemikiran seorang jaksa sebagai aparatur negara yang dibayar untuk melakukan penuntutan, termasuk kejahatan korupsi,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Jampidsus Ali Mukartono mempertanyakan kepada awak media kenapa selalu mengejar pemberitaan soal Pinangki. Menurut dia, tersangka dalam kasus tersebut ada banyak, sehingga tidak harus berfokus pada Pinangki seorang.

“Kenapa sih yang dikejar-kejar Pinangki, tersangka terkait itu ada banyak. Malah dari Pinangki, negara dapat mobil. Yang lain kan susah ngelacaknya itu,” tegas Ali beberapa waktu lalu.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here