Kasus Izin Pertambangan, KNPI Bakal Beri Hadiah Rp100 Juta Tangkap Buronan di Sultra!

Kasus korupsi di Indonesia sampai saat ini masih terus terjadi. Bahkan tak heran baik politisi, pejabat negara hingga pihak kepolisian terjaring dalam kasus yang sama, yakni korupsi.

Ada yang menarik yang disampaikan oleh Komita Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), yakni dengan menggelar sayembara bagi siapapun yang melaporkan adanya indikasi korupsi akan diberikan hadiah, yakni Rp100 juta.

Salah satunya adalah di wilayah Sulawesi Tenggara. “Jika Kejati Sultra tidak juga melakukan penangkapan terhadap saudara Yusmin, maka DPP KNPI akan mengadakan sayembara untuk orang yang memberitahukan dan mengabarkan keberadaan saudara Yusmin kepada DPP KNPI dengan hadiah sebesar Rp100 juta,” kata Ketua Umum KNPI Haris Pertama, Selasa, 22 Juni 2021.

Sebagaimana diketahui, Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Tenggara menangani kasus dugaan korupsi izin pertambangan PT Toshida, dan telah menetapkan dua anak buah Gubernur Sultra Ali Mazi sebagai tersangka yaitu mantan Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Dinas ESDM Sultra yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas (Kadis) Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Selain itu, ada juga mantan Pelaksana tugas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sultra Buhardiman yang kini sudah ditahan.

Adapun Haris juga meminta Kejati Sultra segera menemukan dan menangkap Yusmin untuk dimintai keterangan dalam kasus tersebut agar dapat diketahui siapa saja yang berperan dalam kasus tersebut. Dia juga mendesak Kejati Sultra untuk memeriksa Gubernur Sultra.

“Kami minta Kejati Sultra jangan masuk angin dan harus memeriksa Ali Mazi yang merupakan atasan dari Buhardiman dan Yusmin,” tambahnya.

Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik Kejati Sultra menggeledah Kantor Dinas ESDM Sultra, Jl Diponegoro Kelurahan Benu-Benua, Kecamatan Kendari Barat, Senin, 14 Juni 2021, lalu. Saat itu, puluhan dokumen tentang persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disita.

Sebagai informasi, PT Toshida Indonesia diduga menunggak ratusan miliar retribusi penggunaan kawasan hutan selama 11 tahun. Perusahaan itu sendiri beroperasi di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Namun, sejak 2009 hingga 2020, PT Toshida Indonesia lalai membayar penerimaan negara bukan pajak izin pinjam pakai kawasan hutan (PNBP IPPKH) ke negara.

Meski tak membayar kewajiban tersebut, Dinas ESDM Sultra tetap mengeluarkan izin tambang berupa Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) ke PT Toshida. Sehingga, aktivitas PT Toshida tersebut diduga tidak resmi, sehingga merugikan keuangan negara yang ditaksir mencapai ratusan miliar.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here