Rizal Ramli ‘Aktor’ di Balik Wajib Belajar 6 Tahun dan Cita-cita Gratiskan Sekolah Hingga SMA

Jika mendegar nama Rizal Ramli, pasti yang ada di pikiran anda adalah sosok yang keras, dan kerap memberikan kritik kepada siapapun rezim pemerintahannya. Memang sudah karakternya, mengingat sosok yang akrab di sapa RR ini adalah tokoh yang selalu tegas dalam menyampaikan kritikan kepada setiap kebijakan-kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat.

Ekonomi, sudah pasti, karena sepak terjangnya bukan hanya di Indonesia, namun juga internasional. Rizal Ramli merupakan mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB. Soal politik, dirinya juga merupakan salah satu tokoh pergerakan di awal tahun 70-an, dan bahkan pernah dipenjara di era Soeharto.

Namun, taukah anda, bahwa kisah Rizal Ramli ternyata masih ada kaitannya dengan dunia pendidikan di Indonesia.

Rizal Ramli Aktor di Balik Wajib Belajar 6 Tahun di Era Orde baru

Mantan Menko Ekuin Era Gusdur ini ternyata adalah ‘aktor’ di balik lahirnya program wajib belajar 6 tahun pada masa pemerintahan orde baru. Ketika masih menjadi mahasiswa, Rizal memiliki perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Redaksi Bicaralah.com, yang mendapat kesempatan berbincang-bincang dengannya pada Minggu (2/5) di kediamannya di kawasan Bangka, Jakarta Selatan cukup kaget, karena tak menyangka bahwa selama ini yang dibahas Rizal politik, ekonomi, korupsi dan HAM.

Berikut petikan wawancara redaksi dengan Rizal Ramli:

Redaksi: Bang Rizal, bisa ceritakan kembali, soal kepedulian anda soal dunia pendidikan di Indonesia?

Rizal Ramli: Ini sebenarnya sudah berkali-kali saya ceritakan, tapi untuk Bicaralah.com. saya akan bicara kembali, karena mengingat hari ini (kemarin) kita memperingat Hari Pendidikan Nasional’.

Saya itu, waktu masih kuliah di ITB pernah mendapat kesempatan berkunjung ke Jepang. Simple, saya kagum banget dengan kemajuan negara Sakura itu, padahal, negara itu banyak sekali wilayah yang tidak subur dan bebatuan.

Kenapa? bukan tanpa sebab, aneh dong, bagaimana tidak, 2/3 tanahnya batu-batuan tapi bisa kasih makan penduduknya, saya berfikir…. kok Jepang bisa lebih maju dari kita (Indonesia”.

Redaksi: Ada beberapa artikel kami baca, anda bersama teman-teman anda mencoba membuat sebuah formula baru saat itu, mengenai dunia pendidikan?

Rizal Ramli: Ketika kembali ke Indoneisa, saya bersama teman-teman sempat melakukan perjalanan ke beberapa wilayah miskin di Indonesia, salah satunya pesisir pantai, dari utara Jawa hingga Lombok.

Kenapa pesisir pantai, karena pada umumnya, daerah ini memiliki basis masyarakat kurang mampu. Namun, sampai di darah Tegal, Jawa Tengah, saya bertemu dengan anak seorang nelayan bernama Sugriwa, kalau agak salah saat itu usianya 9 tahun.

Sugriwa ini tidak sekolah karena orang tuanya tak punya uang untuk bayar biaya pendidikan. Atas dasar inilah kami merasa terpukul, agar bagaimana kita punya solusi untuk dunia pendidikan di Indonesia.

Redaksi: Oke… kemudian apa yang Abang lakukan dengan teman-teman Abang setelah melihat kondisi tersebut.

Rizal Ramli: Gak pakai lama, saya dan kawan-kawan bikin acara dan ‘Gerakan Anti Kebodohan’ yang tujuannya memang menyindir pemerintah, bayangkan… saat itu kurang lebih ada sekitar tujuh juta anak Indonesua tidak bisa sekolah.

Rizal Ramli, Tokoh Pergerakan ITB

“Kita kan mahasiswa, saya saat itu pimpinan mahasiswa di ITB, kita undang penyair WS Rendra untuk datang ke ITB, kemudian menghasilkan puisi yang kalau kamu tau, judulnya ‘Sebatang Lisong’. Kami juga undang sutradara terkenal Sjuman Jaya, dan akhirnya melahirkan film ‘Yang Muda Yang Bercinta’.

Penyair Legendaris WS Rendra, Orasi dan Puisi di ITB

Apa yang kami lakukan, alhamdulillah, pemerintah mendapat tekanan keras dari mahasiswa, dan pemerintah Soeharto saat itu mengeluarkan Undang-Undang (UU) terkait wajib belajar sembilan tahun.

“Nah, akibat pressure (tekanan-red) inilah pemerintah akhirnya mewajibkan belajar sembilan tahun, sehingga anak usia sejkolah bisa masuk SD, tapi gak cukup sampai disini saja, karena kita sebetulnya butuh sekolah gratis, karena masih banyak sekali masyarakat Indonesia ini yang berada di bawah garis kemiskinan”.

Redaksi: Baik Bang, kalau untuk saat ini, apa yang anda harapkan soal dunia pendidikan Indoensia.

Rizal Ramli: Pemerintah tak punya metode, atau cara yang betul-betul bisa membuat anak-anak bisa mendapatkan hak pendidikan, lihat saat ini sekolah online, apakah di daerah semua punya handphone, bagaimana dengan jaringan, bagaimana dengan kondisi ekonomi masyarakat, miris banget.

Saya ini, sejak kecil sudah tidak punya orang tua, tinggal sama nenek saya, di Bogor, Jawa Barat, sekolah dan kuliah, saya mencari bagaimana caranya saya bisa menempuh kuliah,.

Termasuk saya pernah buka kelas untuk ekspatriat waktu saya kuliah, karena bahasa inggris saya kan mampu untuk mengajarkan mereka bahasa Indonesia, dan ini menjadi salah satu modal saya saat kuliah.

Dan sampai saat ini, saya masih merasa miris melihat anak-anak masih gak mendapatkan hak pendidikan seperti apa yang didapat oleh anak yang orang tuanya mampu.

“Saya pengen kita ubah regulasi pendidikan ini, menjadi sekolah gratis, RR Pimpin Indonesia, kita buat Undang-Undang Wajib Belajar 12 Tahun hingga SMA. Biar generasi muda kita bisa maju, Indonesia bisa bangkit dan kita kembalikan marwah bangsa kita ini sebagai bangsa yang besar”. (Tim Redaksi)

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here