Salut! Kurangi Beban Garuda, Dewan Komisaris Minta Gajinya Tak Usah Dibayar

Kondisi maskapai Garuda Indonesia yang saat ini sedang kritis. Bahkan, perusahaan penerbangan pelat merah itu terlilit utang hingga Rp70 triliun, tentunya ini hal yang sangat berat untuk mengembalikan performa perusahaan jika tidak diperbaiki oleh ahlinya.

Diketahui, menurut laporan keuangan terakhir yang disampaikan perusahaan, hingga kuartal III-2020 lalu, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar 1,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun, secara year to date. Angka ini turun 68% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019. Sementara, pendapatan penumpang turun 71%, kargo turun 26%, dan pendapatan dari keberangkatan haji hilang total, atau turun hingga 100%.

Sebelumnya, Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), Asosiasi Pilot garuda (APG), dan Ikatan Awak Kabin Indonesia (Ikagi) tergabung dalam Sekretariat Bersama Karyawan Garuda Indonesia mengirim surat ke Jokowi dan mempertanyakan sikap pemerintah atas kondisi Garuda saat ini.

Ketua Harian Sekarga Tomy Tampatty menjelaskan, sejumlah pembahasan penyelamatan kelangsungan Garuda Indonesia selama ini tidak menyentuh akar permasalahan utama. “Selama ini pembahasannya hanya berorientasi pada permasalahan kerugian yang dialami dan berapa banyak dana talangan yang harus dipinjamkan kepada Garuda Indonesia,” katanya.

Padahal, menurutnya akar permasalahan Garuda Indonesia selama ini yakni ketidakpastian dan ketidakjelasan posisi negara serta dukunganya. Tomy mengatakan, serikat pekerja menilai Garuda Indonesia hanya dipandang dari persoalan bisnisnya saja sehingga parameter yang digunakan hanya dari sisi pendapatan dan kerugiaan perusahaan.

Baca Juga: Pernah Selamatkan Garuda Indonesia, Rizal Ramli Blak-blakan Soal Industri Penerbangan

“Seharusnya selain dilihat dari sisi kinerja bisnisnya, Garuda Indonesia juga harus dilihat dari statusnya sebagai maskapai nasional yang menghubungkan Indonesia sebagai negara kepulauan,” ungkap Tomy.

Sementara itu, Dewan Komisaris Garuda Indonesia mengirimkan surat kepada Direktur Keuangan Garuda Indonesia mengenai pailit yang dialami perusahaan tersebut.

Berikut isi surat yang dikirim Anggota Dewan Komisaris Garuda Indonesia, Peter Gontha:

Perihal: Pembayaran Gaji

Kepada Yth: Dewan Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta.

Tembusan: Direktur Keuangan Garuda Indonesia.

Dengan Hormat:

Mengingat keadaan keuangan Garuda yang tambah lama bertambah kritis, kami sebagai anggota dewan komisaris yang sangat mengetahui penyebab-penyebab kejadian ini al.

1 Tidak adanya penghematan biaya operasional antara lain GHA

2 Tidak adanya informasi mengenai cara dan narasi negoisasi dengan lessor

3 Tidak adanya evaluasi/perubahan penerbangan/route yang merugi

4 Cash Flow manajemen yang tidak dapat dimengerti

5 Keputusan yang diambil Kementerian BUMN secara sepihak tanpa koordinasi dan tanpa melibatkan Dewan Komisaris

6 Saran Komisaris yang oleh karenanya tidak diperlukan

7 Aktivitas komisaris yang oleh karenanya hanya 5-6 jam /per minggu

Maka, kami mohon demi ‘sedikit meringankan’ beban perusahaan, untuk segera, mulai bulan Mei 2021, yang memang pembayarannya ditangguhkan, memberhentikan pembayaran honorarium bulanan kami sampai rapat pemegang saham mendatang, dimana diharapkan adanya keputusan yang jelas dan mungkin sebagai contoh bagi yang lain agar sadar akan kritisnya keadaan perusahaan.

Hormat Kami

Peter Gontha

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here