Rizal Ramli Menaruh Perhatian Besar Pada Persoalan di Garuda Indonesia

Begawan ekonomi, Rizal Ramli, merespon sikap sejumlah Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang meminta gajinya dihentikan demi menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan.

Figur yang pernah menyelamatkan perusahaan maskapai milik BUMN di tahun 2000 itu mempertanyakan soal kondisi dan masalah yang sebenarnya terjadi di perusahaan.

Dalam akun Twitternya, mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini meretweet unggahan pengguna Twitter yang memposting surat yang dikirimkan Anggota Dewan Komisaris Garuda, Peter Gontha di akun Instagram pribadinya, yang ditujukan kepada Dewan Komisaris Garuda Indonesia dan ditembuskan kepada Direktur Keuangan perusahaan, ditandatangani pada Rabu kemarin (2/6/2021).

Dalam isi suratnya, Peter menyatakan bahwa penangguhan gajinya sejak bulan Mei kemarin sebaiknya dihentikan hingga rapat pemegang saham mendatang.

Peter juga mengungkap kondisi keuangan emiten dengan kode saham GIAA ini yang menurutnya bertambah kritis. Karena dia mengatakan bahwa manajemen GIAA tidak melakukan penghematan biaya operasional yang terlihat dari tidak adanya upaya renegosiasi dengan lessor pesawat, hingga tidak adanya evaluasi atau perubahan penerbangan dan juga rute yang merugi.

Bahkan dia menyebutkan kalau kebijakan-kebijakan yang diambil perusahaan dan juga Kementerian BUMN itu tidak melibatkan Dewan Komisaris. Selain itu juga jadwal kerja komisaris yang hanya 5-6 jam selama seminggu, ikut masuk dalam surat Peter.

Dalam akun Twitternya, Rizal Ramli merespon sikap Peter Gontha ini dengan menanyakan kondisi yang sebenernya terjadi di Garuda.

“Peter, kok Garuda jadi semakin ribet, apa yang terjadi?” tanya Rizal Ramli dalam kicauannya, Kamis dini hari (3/6/2021).

Selain Peter Gontha, kemarin Anggota Komisaris lainnya yaitu Yenny Wahid juga mengambil langkah serupa. Yakni, dia menolak menerima gaji sebagai komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Keprihatinan Rizal Ramli terhadap kondisi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. ini sebenarnya bukan tanpa sebab. Mantan anggota tim panel ekonomi PBB itu ternyata pernah menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan di tahun 2000. Kala itu, Garuda terlilit utang US$ 1,8 miliar. Apabila tidak dibayar, konsorsium bank Eropa yang memberi pinjaman akan menarik pesawat-pesawat Garuda.

Rizal Ramli sebagai perwakilan pemerintah Indonesia kemudian mengancam konsorsium bank ke pengadilan Frankfurt. Karena diketahui pesawat yang dibeli Garuda Indonesia kala itu hasil penggelembungan atau mark up.

Setelah ancaman tersebut, konsorsium bank meminta damai. Dia bilang, kondisi Garuda sebenarnya tidak masalah jika pembelian pesawatnya tidak di mark up.

Bahkan, saat akan masuk ke kabinet Jokowi, Rizal Ramli tetap konsisten memperjuangkan maskapai plat merah itu. Salah satunya meminta Preside untuk membatalkan pesanan pesawat karena dianggap membahayakan.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here