Rizal Ramli Bedah Ekonomi Indonesia di Karni Ilyas Club

Tokoh nasional Rizal Ramli angkat bicara soal Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditujukan kepada sembako dan sekolah. Menurutnya, kebijakan yang dilakukan terhadap dua hal tersebut adalah dzolim.

“Saya prihatin sekaligus kaget, memang pemerintah lagi panik dan kesulitan likuiditas penrimaan pajak rendah, tapi kok tegategany amau kasih tambahan pajak PPN kepada sembako,pendidikan.

“Mohon maaf , ini sudah dzolim, siapapun pemerintahnya dari dulu selalu jaga agar sembako itu murah kalau perlu disubsidi dan sekolah juga demikian,” ujarnya, dalam akun Youtube Karni Ilyas Club, tadi malam.

Ia mengaku tak habis pikir, mengapa pemerintah begitu teganya melakukan pajak terhadap kebutuhan pokok. Hal ini terjadi kata Rizal, karena pamerintah sudah mengalami kepanikan.

“Ini terjadi karena memang pemerintah sudah sangat panik sampai semabko aja mau dinaikin dan pendidikan juga. Seperti kehilangan akal, tapi di sisi lain, pajak untuk yang besar besar malah dikasih pembebasan, tax holiday 20 tahun bebas pajak pendapatan, untuk batu bara diturunin royaltinya dijadikan nol, dan ada juga untuk mobil dijadikan nol, ini menujukkan pemerintah sangat pro kepada yang besar-besar dan kaya dan menindas yang miskin dengan kebijakan seperti ini,” tegasnya.

Adapun menurutnya, kebijakan tersebut bisa berdampak pada banyak hal. “Ini akan bedampak pada kenaikan harga dan berantai, tapi mari kita bertaya secara objektif, apa sih masalah kita, masalah kita yang utama adalah kwajiban bayar bunga utang 273 triliun satu tahun, dan itu belum pokoknya.

“Karena selama ini minjam dengan bunga 2 persen lebih tinggi dari seharusnya, kenapa gak fokus di masalah itu saja, caranya gimana, lakukan terobosan supaya kewajiban bunga bisa dipotong setengahnya, mungkin gak?… ya mungkin dong, karena saya sebelum pandemi, kebertulan gubernur bank central itu kawan lama.

“Saya tanya kepada beliau, kamu kan sekarang kalau terbitkan surat utang, bayar kepada yang minjam, kita Indonesia kalau terbitkan surat utang yield-nya 7,5 persen, mau gak kita slot, kamu ambil surata utang kita, saya kasih kamu bunga plus 1 persen, dia bilang Dr Ramli saya senang banget kalau indonesia bisa begitu, karena hari ini kalau kita minjam ke lembaga keuangan kita yang harus bayar bung minus 1 persen.

“Saya bilang dengan syarat tenor pinjaman indonesia rata-rata 7 tahun saya mau naikkan 30-50 tahun supaya kita punya stabilitas nasional.

“Padahal waktu itu Jerman minus 1 persen Amerika minus setengah persen, dan itu biasa loan yang tinggi kita tukar dengan loan yang murah, yang kedua waktu saya menko Gusdur, saya lakukan yang pertama dan belum ada di berbagai negara yang melakukan apa yang saya lakukan, apa itu?…tukar utang dengan utang, dimana saat itu dengan Jerman, saat itu mereka (Jerman kritik Indonesia, karena merusak paru paru dunia.

Cara Out of The Box Selesaikan Utang Tanpa Masalah dengan Dua Negara

“Saya ketemu dengan menteri kauangan Jerman, dan minta win win solution, saya sediakan 300 ribu hektar untuk onservasi, kamu potong utang Indnesia 600 juta dolar, kita lakukan dalam lima tahap mereka setuju, harusnya empat tahap lagi, tapi pemerintah gusdur selesai.

“Hari ini soal lingkungan hidup nomor satu di dunia, saya waktu lebaran ketiga ada teman-teman dari Amerika datang ker umah, mereka katakan mau bantu, saya katakan mari kita adakan lagi swap debt to nature, kita sediakan hutan di seluruh luar Jawa untuk konservasi dan kamu potong utang indonesia 60 miliar dolar

Rizal Ramli menceritakan, dimana waktu menjabat sebagai Menko, Indonesia juga saat itu mendapat kritik keras dari pemerintah Kuwait.

“Kita juga waktu pemerintah Gusdur dikritik sama pemrintah kuait, menteri kauangan datang sama saya, Dr ramli kamu bayar dulu utang seluruhnya, biar saya gak ditanya lagi oleh parlemen, saya bilang oke tapi dengan bunga yang lebih murah ya, merek setuju, setelah selesai dia datang lagi dan mau kasih saya hadiah, what di you want, saya bilang saya dulu kuliah di Bandung, kalau masuk bandung macet banget, bisa gak bangun fly over Pasopati, dia mau dan mereka banagun dan itu gratis, kalau kita inovatid banyak caranya,” ungkap Rizal.

Jadi Presiden, Rizal Ramli Akan Potong Utang RI

Rizal Ramli menegaskan, bahwa jika diberikan kesempatan oleh Tuhan menjadi presiden, maka ia akan menyelesaikan masalah utang di Indonesia.

“Kalau saya jadi presiden, saya akan potong utang jadi setenganya, sisanya saya akan bagikan wifi gratis di seluruh indonesia, banyak cara lah, ini malah ribut naikin pajak, kenapa masalah, biasanya kalau lagi krisis di seluruh dunia gak mau naikin pajak kecuali kepepet. Dan justru pajak harus diturunin agar ada instensif di masa resesi,” tegasnya.

Mantan Menko Ekuin era Gusdur ini juga mengaku kecewa dengan adanya usulan pajak pendapatan 35 persen.

“Kemudian ada yang usulin pajak pendapatan 35 persen, di Singaura pajak pendapat hanya 17 persen, jadi orang yang punya transaksi 5 juta dolar, dia akan lakukan transaksi nya di Singapura, dan transakasi di Indonesia hanya modal kerja saja.

“Ini kan menjadikan kapital out flow ke luar negeri, ini mohon maaf menkeu sekolahnya dimana, saya ngak ngerti, orang akan pindahkan uangnya ke Singapura atau ke Hongkong.

“Kalau misalnya pajak dinaikin, saya sarani dari pajak capital gain (keuntungan modal-red), orang spekulasi di pasar modal itukan dipajakin nol, coba kita pajakin dan pasti kita dapatnya besar, dan kemudian kalau mau bisa lakukan pajak warisan.

Namun, lagi-lagi kata Rizal, saat ini sumber kesulitan yang terjadi karena RI terlalu banyak utang. “Masalah kita kebanyakan utang, bunganya kemahalan ,sekarang rakyat yang diuber, yang gede mereka gak berani, kalau berani potong dong cari jalan bagaimana bisa ini bisa dipotong jadi setengahya,” jelasnya.

Rizal Ramli juga menambahkan, bahwa pemerintah Gusdur adalah satu-satunya pemerintah yang tidak menambah utang.

“Pemerintah Gusdur satu satunya pemerintah yang gak nambah utang, ini pikiran gini gak ada, makanya saya banyak ditanya sama banyak kalangan, dari atas hingga bawah, ini dah gak bener, dan menunjukkan tidak mampu selesaikan masalah.

Pada kesempatan sesi tersebut, Karni Ilyas mempertanyakan bagaimana ujungnya nasib bangsa Indonesia. “Jadi ini bagaimana ujungnya bangsa kita ini”,” tanya Karni kepada Rizal.

Rizal tetap pada pendiriannya, yakni bagaimana mencari solusi atas masalah yang terjadi di Indonesia. “Makanya, kalau cari solusi itu kreatif, jangan selesaikan masalah dengan menciptakan masalah baru. Kan harusnya bisa fokus pada core issue (isu utama-red), dalam hal ini adalah kesulitan dalam membayat utang, karena bayar bunganya saja kita harus minjam lagi.

“Mereka kalau cari solusi itu kreat provlem, kalan kalau kita da maslaah cari masalah dengan solusi hjangan cipta masalah baru , ini ada kreat solusi tapi menciptakan maslah baru, kenapa tidak fokus pada coe isu, isu utama, dalam hal ini adlaah kesulitan dalam membayar bunga utang, dan ini untuk embayar bunga saj apemeirntah harus bayar pakai bungam.,itulah kondisinya bangsa kita,” sebut Rizal.

Rizal Ramli Bahas ‘Boston Tea Party’

Pada sesi tersebut, Rizal Ramli juga menceritakan apa yang terjadi pada negara lain dimana pajak mencekik rakyat atas kebijakan pemerintah.

“Bung Karni saya gak ngomong indonesia, saya bicara tentang pengalaman di negara lain, kenapa sih ada revolusi di Amerika yang melawan pemerintahan inggris, sederhana, pemerintahan inggris pajakin teh untuk rakyat Amerika, terjadilah apa yang disebut ‘Boston Tea Party’, tokoh dan masyarakat Amerika lempar teh inggris ke laut itulah mulai revolusi Amerika dan akhirnya merdeka dari Inggris.

Rizal Cerita Soal Revolusi Prancis

“Bung Karni tau kan revolusi Prancis, rajanya foya foya sama ratunya, rakyatnya dipajakin akhirnya terjadi revolusi. Di India juga sama, Inggris melakukan pajak garam lewat monopoli Inggris dengan naikkan pajak garam, apa yang terjadi, Ghandi dan Nehu datang ke laut dan bikin garam sendiri, itu yang dikenal dengan gerakan Satya Graha, mereka gak mau dipajakin sama Inggris, dan dengan modal inilah India merdeka.

“Jadi… jangan salah baca, kalau rakyat terus menerus diperas tidak diberikan hak pasti marah. Bangsa kita ini terlalu pemaaf dan paling sabar di dunia, tapikan ada batasnya, dan akhirnya terjadilah amok, dan ini beberapa kali terjadi di Indonesia.

“istilah amok itu di kamus bahasa inggris hanya ada di indonesia nunjukin bahwa bangsa ini sabar banget bisa injek sampai batas kesabarannya habi smsapi marah itu terjadi beberapa kali dalam sejarah di indonesia.

“Saya bilang sing eling lah pemimpin ngaca jangan seenak-enaknya, saya bilang pak jokowi kalau jatuh dia akan dibawa jatuh sama Sri Mulyani yang bikin kebijakan gini, dia kan gak ngeri amat karena kebijakan merugikan rakyat.

Karni kembali bertanya, jika Menko saat ini seperti itu yang akan Bung RR lakukan,

“Saya gak minat jadi menteri saya minta jadi presidne agar benerin ini semua,” tegas Rizal.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here