Pernah Selamatkan Garuda Indonesia, Rizal Ramli Blak-blakan Soal Industri Penerbangan

Bicaralah.com -

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk betul-betul mengalami hantaman besar berupa utang yang terus melilit maskapai penerbangan kebanggaan RI ini,

Bahkan, saat ini utang Garuda Indonesia mencapai Rp70 triliun atau US$ 4,9 miliar. Dimana jumlah tersebut bertambah lebih dari Rp1 triliun per bulannya, hal ini terlihat seiring dengan penundaan pembayaran yang seharusnya dilakukan maskapai kepada para pemasok.

Dirut Garuda Irfan Setiaputra sebelumnya mengatakan, kas Garuda Indonesia berada di zona merah. “Saat ini arus kas GIAA berada di zona merah dan memiliki ekuitas minus Rp 41 triliun,” jelasnya, dalam keterangan resmi, Minggu (23/5) lalu.

Kondisi ini juga mengakibatkan perusahaan mengambil langkah untuk merestrukturisasi bisnis dengan melakukan pengurangan armada pesawat hingga 50 persen

“Kami memiliki 142 pesawat dan menurut perhitungan awal terkait dampak pemulihan saat ini, GIAA kemungkinan akan beroperasi dengan tidak lebih dari 70 pesawat,” ujarnya.

Selain itu, ada juga opsi untuk merumahkan pekerja dan tawaran pensiun dini bagi karyawan yang masih menjalani tugas. Hal ini disebut-sebut merupakan langkah terbaik guna mengurangi beban perusahaan.

Menanggapi situasi pailit yang dialami Garuda Indonesia, ekonom senior Rizal Ramli mengungkapkan, bahwa masalah yang dialami maskapai tersebut masih bisa diperbaiki.

Sebagai informasi, Rizal Ramli pernah melakukan penyelamatan Garuda Indonesia dari kebangkrutan di tahun 2000. Saat itu, Garuda terlilit utang US$ 1,8 miliar. Jika tidak dibayar.

Redaksi bicaralah.com kembali mendapat kesempatan pada Minggu (30/5) di kediamannya di kawasan Jalan Bangka, Jakarta Selatan, untuk menanyakan secara langsung bagaimana cara Rizal Ramli memperbaiki Garuda Indonesia.

Redaksi : Pak Rizal, bagaimana tanggapannya mengenai kondisi yang dialami Garuda Indonesia saat ini?

Rizal Ramli: Sedih lihat nasib Garuda saat ini, karena, saya pernah selamatksn Garuda tahun 2000. Saya coba ingatkan anda, saat itu Garuda terlilit hutang sangat tinggi sekali dan tak mampu bayar dan konsekwensinya adalah konsorsium bank Eropa yang memberi pinjaman akan menarik pesawat-pesawat Garuda.

Kita kan gak bisa diancam model begini, kita ancam balik konsorsium bank ke pengadilan, karena apa? pesawat yang dibeli Garuda itu terdapat mark-up (penggelembungan dana-red).

Redaksi     : Bagaimana respon konsorsium sendiri dengan adanya ancaman balik dari pemerintah saat itu?

Rizal Ramli: Kami katakan saat itu, akan menuntut mereka (konsorsium) ke Pengadilan Frankfurt karena saudara konsorsiumbank itu membiayai mark-up pembelian pesawat. Jika harusnya 100, dinaikin 50, dan kasih kredit.

Tapi tak membutuhkan waktu lama, justru mereka yang minta damai, menariknya, mereka justru buka-bukaan bahwa masalah yang dialami Garuda sebetulnya tidak separah yang dialamiu saat itu, hanya ada mark-up disana.

Saya juga di kabinet juga bicara dengan mas Jokowi, agar cancel pembelian pesawat Garuda karena membahayakan.

Duopoli Industri Penerbangan di Indonesia

Redaksi    : Pak Rizal ada gak indikator lain, misalnya tiket pesawat yang cukup mahal, sehingga mengakibatkan kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan maskapai, misalnya yang kita bahas saat ini adalah Garuda Indonesia?

Rizal Ramli : Yang menjadi salah satu penyebab masalah dalam industri penerbangan di Indonesia adalah soal tiket pesawat. Kenapa? karena ini persoalan ekspansi pembelian pesawat yang sangat berlebihan

Itulah yang menyebabkan kapital cost terlalu tinggi, jor-joran beli pesawat dengan kredit jumbo. Akibatnya mereka pihak maskapai perlu dorong harga yang terlalu berlebihan saat itu di tahun 2018-2019. Pada tahun 2017 tarifnya belum naik, memang waktu itu terlalu rendah, kalau naik 10-30 persen buat saya masih masuk akal, tapi ini kan naiknya hampir 100 persen dibanding tahun 2017.

Saat ini walapun ada 11 perusahaan penerbangan, struktur industri penerbangan sudah duapoly, sekitar 95% pangsa pasar dikuasai Grup Garuda dan Grup Lion Air, sisanya dibagi 9 airline kecil. Menurut RR, mantan Preskom Semen Gresik Group yg berhasil menaikkan keuntungan SG 4x dalam 2 tahun:“ Struktur Duopoly memungkinkan terjadinya price-syncronization, atau bahkan mungkin price-collution”.

“Jika struktur pasar duopoly, kebijakan harga tidak bisa diserahkan kepada mekanisme pasar. Harus ditetapkan oleh regulator,” kata Ketua Bulog tahun 2000 yang sukseskan stabilkan harga pangan selama 2 tahun itu.

Redaksi    : Pak Rizal… dengan kondisi ini artinya masyarakat juga ingin tau apa yang melatarbelakangi bangkrutnya Garuda Indonesia, kita tau ini bukan kali pertama terjadi, seperit yang anda katakan tahun 2000 juga mengalami hal yang sama. Apakah perlu diaudit soal keuangan, serta kebijakan-kebijakan yang ada dalam masalah ini?

Rizal Ramli : Memang dalam hal ini, misal saja soal tiket, ada beberapa solusi untuk menurunkan harga tiket pesawat dengan malkukan audit. Kemudian, kita dorong pemiliknya untuk restructure kreditnya supaya sustainable. Itu kami lakukan pada tahun 2000, saat itu Garuda tidak mampu bayar creditnya yang mencapai $1,8 Miliar sehingga kreditor mengancam untuk menyita pesawat GA yg terbang keluar negeri. Kami lakukan restrukturisasi kredit sehingga Garuda keluar dari masalah” ungkap Rizal.

Selain itu juga, harga Avtur itu kemahalan, udah turunin aja supaya harga kompetitif, toh volume penerbangan di Indonesia dan volume pembelian Avtur sudah tinggi, untung dari volumenya, bukan dari premium price.

Kita juga pernah menurunkan semua tarif spareparts dan komponen untuk pesawat. Tapi cuma yang direct untuk maintanance pesawat, tapi ada juga komponen in direct yang barangkali bisa di turunkan tarifnya.

Redaksi    : Pak Rizal, apa ada indikator lain mengenai industri penerbangan kita yang masih perlu diperbaiki?

Rizal Ramli    : Fligh sheduling yang juga belum optimal. Misalnya dari Ambon ke Manado, kita harus ke Makassar dulu.

Jujur, sedih lihat nasib Garuda saat ini, karena saya pernah selamatksn Garuda tahun 2000. Dan yang menjadi pertanyaan adalah, bisa ndak sekarang diselamatkan lagi.. tentunya bisa, tapi tak bisa dilakukan dengan cara konvensional.

Jadi… esensinya sederhana, bisnis apapun kalau internal rate of returnnya 11 persen dalam dollar itu sudah bagus. tinggal pemerintah tentukan 11 persen, baru ditarik kebelakang. Tapikan ini harus canggih sedikit pemerintahnya, kalau gak canggih ya gak bisa ngitungnya. Masalah harga tiket pesawat ini bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan, kalau canggih, kalau gak ya debat kusir terus. Masih banyak cara untuk menyelesaikannya, bukan hanya undang asing. (Redaksi)

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here