Pajak Sembako dan Sekolah, Faisal Basri: Grand Corruption!

Ekonom Faisal basri menanggapi soal investasi di Indonesia. Menurutnya, meski angka investasi meningkat, namun hasilnya tak sesuai dengan apa yang ditargetkan.

Ia menilai indikator tak tercapainya target merujuk pada angka ICOR Indonesia, Dinama pada tahun 2015-2019, ICOR Indonesia menunjukkan 6,5 atau lebih besar daripada periode sebelumnya yang berada di kisaran 4 persen.

“Pembangunan di Indonesia 50 persen lebih banyak modal karena embernya bocor. Masukan air bocor, dan bocornya kian hari kian banyak. Kebocoran di Indonesia paling tinggi di Asean,” kata Faisal dalam sebuah diskusi webinar, kemarin di jakarta.

Padahal menurutnya, persentase nilai investasi yang masuk ke Indonesia per PDB sudah lebih besar dari negara lain.”Investasinya tiga per empat berupa bangunan karena ini paling mudah dikorupsi selain sumber daya alam. Hanya 10 persen berupa mesin. Alhasil belanja kita makin banyak dibiayai utang,” ungkapnya.

Ia pun menilai bahwa pajak yang dilakukan pemeirntah menunjukkan adanya kesulitan pencarian utang yang diperoleh pemerintah. Terlebih rencana pajak sembako dan sekolah yang sampai saat ini masih menyita perhatian dei selurh lapisan masyarakat.

“Sementara orang-orang kaya si oligarki diberi keringanan pajak terus menerus. Dari Omnibus Lae, pajaknya (PPh Badan) dipangkas dari 25 persen menjadi 22 persen tahun lalu dan tahun depan 20 persen saja. Kalau go public 17 persen, sama dengan Singapura,” sambungnya.

Pajak tersebut juga menurutnya akan berdampak pada tinggi tingkat korupsi. “Itu seperti yang ditunjukkan pemerintah belakangan ini yang berinisiatif mengenakan pajak untuk sembako, persalinan, dan pendidikan. Makin regresif, pukul rata sama. Betul-betul ini sudah berwujud grand corruption,” tutupnya.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here