Manajemen Garuda Curhat Nunggak Gaji Karyawan Rp328,9 Miliar, Pemerintah Sibuk Apa Sih?

Manajemen Masakapai Garuda Indonesia mengungkapkan adanya penundaan pembayaran gaji karyawan sebesar US$23 atau sekitar Rp328,9 miliar, jika kurs Rp14.300 per Desember 2020 lalu. Diketahui, Garuda saat ini memang sedang menghadapi badai krisis yang sangat mendalam, terlebih di masa pandemi yang juga mengakibatkan aktivitas penerbangan anjlok drastis.

“Estimasi dari Jumlah tunjangan gaji yang saat ini ditunda/belum dibayarkan per 31 Desember adalah sebesar US$ 23 Juta,” dikutip dari rilis resmi manajemen Garuda Indonesia kepada BEI, kemarin.

Selain itu, Garuda juga mengakui bahwa, sejak April hingga November 2020 juga telah melakukan penundaan gaji di level atas, yakni; Direksi dan Komisaris 50 persen, Vice President, Captain, First Office, dan Flight Service Manager sebesar 30 persen.

Sedangkan di level Senior Manager dikenakan penundaan sebesar 25 persen, Flight Attendant, Expert dan Manager 20 persen, Duty Manager dan Supervisor 15 persen dan Staff (analyst, officer atau setara) dan siswa sebesar 10 persen. Langkah lain yang dilakukan perseroan antara lain penyelesaian kontrak dipercepat untuk pegawai dengan status kontrak/PKWT, Program Pensiun Dipercepat kepada Karyawan dengan kriteria pendaftar 45 tahun keatas yang dilaksanakan di tahun 2020, dan kebijakan penyesuaian mekanisme kerja untuk Pegawai (WFH/WFO).

“Dalam hal ini dilakukan melalui penawaran Program Pensiun Dini, guna memastikan Perseroan dapat tetap menjaga keseimbangan aspek supply demand yang lebih lanjut akan berpengaruh pada keberlangsungan usahanya,” tulis manajemen.

Dimana Garuda mengaku telah membuka pendaftaran program ini sejak 19 Mei hingga 19 Juni 2021. Adapun, pembayaran hak pensiun karyawan akan dilaksanakan mulai 1 juli 2021 secara bertahap kepada karyawan yang telah mendaftarkan diri pada periode yang ditentukan. Sumber dana untuk membayar pensiun dini ditarik dari pendapatan operasional Garuda.

Diketahui, menurut laporan keuangan terakhir yang disampaikan perusahaan, hingga kuartal III-2020 lalu, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar 1,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun, secara year to date. Angka ini turun 68% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019. Sementara, pendapatan penumpang turun 71%, kargo turun 26%, dan pendapatan dari keberangkatan haji hilang total, atau turun hingga 100%.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here