Ekonomi Meroket Kata Pemerintah, Rizal Ramli: Hasilnya Dibalik Jadi Tekor!

Sepertinya pemerintah tak kapok-kapok memberikan angin surga kepada rakyat Indonesia soal pertumbuhan ekonomi. Bayangkan saja, berbagai target yang disampaikan pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani tak kunjung tiba.

Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, bahwa Indonesia masih berada ddalam jurang resesi pada kuartal I-2021. Dalam catata BPS memperlihatkan pertumbuhan ekonomi RI -0,74%, secara year on year (yoy) dan -0,96%.

“Dari 17 sektor, ada 6 tumbuh positif dan 11 sektor negatif tapi cenderung membaik,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/5/2021) lalu.

Apa yang ada dalam pikiran pemerintah, atau Sri Mulyani ini?. Sekarang, ia menargetkan ekonomi tumbuh di kisaran 5,2 persen sampai 5,8 persen pada tahun depan.

Ia mengatakan, bahwa keyakinan tersebut tertuang dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (KEM PPKF RAPBN) 2022 yang disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis (20/5) lalu.

“Pemerintah mengusulkan kisaran indikator ekonomi makro untuk penyusunan RAPBN 2022 dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen hingga 5,8 persen,” jelas Sri Mulyani pada rapat paripurna, di DPR RI.

Ia mengatakan, pemerintah juga menargetkan inflasi di rentang 2 persen-4 persen dan tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun di rentang 6,32 persen sampai 7,27 persen. Selain itu, nilai tukar rupiah dibidik pada rentang Rp13.900 sampai Rp15 ribu per dolar AS. Sementara, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oil Prices/ICP) diproyeksi berada di kisaran US$55 sampai US$65 per barel.

Ia juga menambahkan, bahwa rasio pendapatan negara akan ditingkatkan di kisaran 10,18 persen hingga 10,44 persen dari PDB. Sedangkan belanja negara diperkirakan mencapai 14,69 persen sampai 15,3 persen dari PDB. “Keseimbangan primer akan mulai bergerak menuju netral dan positif dan diturunkan ke minus 2,31 sampai dengan minus 2,65 persen PDB,” jelasnya lagi.

Dengan demikian kata Sri, defisit akan diperkecil dengan rentang negatif 4,51 persen sampai dengan negatif 4,85 persen dari PDB. Adapun rasio utang dipatok di kisaran 43,76 persen sampai 44,28 persen dari PDB.

Sri juga berharap sejalan dengan perbaikan ekonomi di tahun depan, juga bakal tercipta kesempatan kerja, sekaligus menekan tingkat pengangguran terbuka (TPT). Dia mengeker TPT bisa ditekan di kisaran 5,5 persen hingga 6,2 persen.

Lalu, angka kemiskinan akan berada di rentang 8,5 persen sampai 9 persen dan rasio gini atau rasio ketimpangan akan berkisar antara 0,376 – 0,378. Indeks Pembangunan Manusia naik ke rentang 73,44 sampai 73,48, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) juga diproyeksikan naik dengan capaian masing-masing 102 sampai 104 dan 102 hingga 105.

Menanggapi hal ini, ekonom senior Rizal Ramli justru tak heran. Karena menurtutnya apa yang dikatakan ‘Me-Roket adalah sebaliknya, yakni ‘Tekor’.

“Maunya pidato-nya Me-“Roket” ,, hasilnya sebaliknya “Tekor”. Mengapa demikian ? Karena kebijakan2 ekonomi-nya terbalik,” tegas Rizal dalam akun Twitternta hari ini.

Ia mengaku sudah lama menyarankan agar pemerintah memompa daya beli dan tidak menekan pajak kepada masyarakat kalangan bawah.

“Harusnya pompa daya beli golongan menengah bawah, tapi kebijakan kemudahan & pengurangan pajak untuk yang atas. Manfaat pajak itu dimainkan di pasar spekulatif,” tutupnya.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here