BUMN ‘Dead’ Para Petinggi Tak Punya Inovasi?

Kebangkrutan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya tak bisa lagi ditangani sembarangan. Bahkan, akumulasi laba pada 2020 diperkirakan hanya mampu disetor sekitar Rp18 triliun.

Dimana jumlah tersebut ambruk hingga 77 persen dibandingkan 2019 yang mencapai Rp124 triliun. Akibat kondisi ini, anggota Komisi VI DPR RI Darmadi mendesak agar Kementerian BUMN agar para jajaran petinggi memiliki strategi konkret.

“Laba anjlok hingga 77 persen itu saya kira alarm penting dan mesti disikapi serius oleh Kementerian BUMN. Saya kira peran direksi dan komisaris semakin penting dalam melakukan creative destruction dalam menyikapi persoalan ini (laba anjlok). Mereka mesti out of the box di tengah kondisi perekonomian yang penuh ketidakpastian seperti saat ini,” ujarnya, kepada wartawan, kemarin di Jakarta.

Adapun menurutnya, agar proses rekruitmen jajaran direksi maupun komisaris ke depannya mesti lebih ketat lahi. Seperti diukur menggunakan basis skill, kreativitas dan inovasi.

“Tidak boleh selonggar seperti dulu. Harus diperketat. Kalau dahulu bisa pilih direksi dan komisaris yang biasa-biasa saja. Sekarang harus pilih direksi yang mampu melakukan creative destruction,” sambungnya.

Selain itu, Kementerian BUMN juga diharapkan bisa membuat kebijakan yang tegas. “Dan untuk situasi saat ini Kementerian BUMN harus mampu membuat kebijakan yang tegas dan tidak boleh menyerah atau kompromi  kepada berbagai intervensi pihak-pihak tertentu,” jelasnya.

Bahkan, ia mengatakan bahwa kondisi saat ini banyak BUMN yang tengah sekarat kondisi keuangannya, salah satunya Garuda Indonesia.

“Garuda tengah berdarah-darah kondisi keuangannya. Begitu pun KAI, Krakatau Steel, PLN yang disebut berutang hingga Rp500 Triliun. Sedangkan BUMN yang alami keuntungan tidak seberapa jumlahnya. Tentu kondisi ini berpengaruh terhadap akumulasi laba yang disetorkan seluruh BUMN,” pungkasnya.

Terkini

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here